Pages

LOOK-ARROUND 1st

Look-Arround ini berisi slide foto terbaru di daftar koleksi foto. Edisi pertama ini lokasi pengambilan foto seratus persen di kawasan Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang.

Pantai yang perawan

Meski jalan akses ke pantai rusak, tapi dijamin setara dengan keindahannya. Sepi pengunjung membuat keperawanannya masih sangat terjaga.

Death Coral

Tumpukan bangkai coral berwarna putih cerah terlihat menumpuk beberapa meter di pinggir pantai. Saya sedikit penasaran tentang apa yang mernbawa mereka kemari.

Laguna kecil.

Tempat parkir di wilayah pantai ini tidak luas. Terletak dekat dengan lokasi parkir, ada sebuah laguna kecil(mungkin sangat kecil) tempat anda bisa berendam santai tanpa perlu memikirkan ombak.

Fishing in The Noon

Walau siang bukan waktu memancing yang ideal, kelihatannya mereka tetap asyik saja walau harus bergumul dengan ombak pasang dan terik matahaari.

Showing posts with label Video. Show all posts
Showing posts with label Video. Show all posts

Friday, December 14, 2012

"5 cm", In My Point of View.

    "apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa." -Donny Dhirgantoro


Inilah kurang lebih pesan dari film "5 cm". Film garapan Rizal Mantovani ini telah diputar di berbagai bioskop di seantero Nusantara mulai 12 Desember 2012 (12-12-12). Tentu saja kehadiran film ini di beberapa bioskop amat dinanti. Pasalnya banyak pembaca novelnya yang penasaran seperti apa hasil visualisasi dari novel karya Donny Dhirgantoro ini.

Nah, kebetulan baru aja nonton tadi sore. Jujur, udah lama banget nunggu kehadiran film ini. Dan ternyata, hasilnya gak jauh beda sama novelnya. Kisah di dalam novelnya benar-benar sukses dimunculkan di setiap shoot-nya di film. Sama-sama memuaskan dan mengena ke hati. Mantep!


yang jadi pemeran di film "5 cm"

 Di dalam film ini banyak cerita pencapaian sebuah cita-cita serta persahabatan yang berbalut dilema percintaan dan sedikit nilai nasionalisme. Awalnya bercerita tentang perjanjian antara Genta, Arial, Ariani, Zafran, dan Ian yang berjanji untuk tidak saling komunikasi selama 6 bulan. Dalam tenggat waktu tersebut, mereka berharap lebih serius menggapai keinginan masing-masing. Setelah itu digambarkan bagaimana keseriusan mereka untuk menghadapi setiap tantangan di keseharian mereka.

Setting utama dari cerita "5 cm" ini antara lain ada di Jakarta dan Semeru. Berbagai setting dan suasana berganti 180', dari suasana ibu kota Jakarta ke keindahan Ranu Kumbolo dan Mahameru, penonton seolah dibuat jet leg karena perbedaan ini. Tetap saja penonton merasa terkesima. Adegan demi adegan dengan manisnya membuat mata penonton terhipnotis dan tidak ingin berpaling. Terus saja jalan alur sukses menaik-turunkan perasaan penonton. Hingga film berakhir pun penonton masih ogah-ogahan untuk mengangkat pantat pulang.

Kalau untuk saya, menonton film ini seperti flashback ingatan ke zaman SMA saat pertama kali saya pergi ke Mahameru. Sesekali saya merinding saat mengingat sulitnya perjuangan untuk mencapai titik tertinggi di pulau jawa ini. Di "5 cm" semuanya tergambar dengan apik.

Satu lagi yang patut diacungi jempol adalah bagaimana film ini mempengaruhi pandangan orang tentang naik gunung. Hampir semua teman yang denger saya suka naik gunung awalnya tanya, "Ngapain naik gunung?". Tapi sekarang ganti gini, "Kapan naik gunung?" atau "Ayo naik gunung!". Semua malah semangat naik gunung dan jadi lebih terbuka dengan kegiatan seperti ini. Two thumbs up!

   Akhirnya, untuk temen-temen yang belum nonton, sempetin deh. Rugi kalau gak nonton.
   Salut deh buat film yang satu ini. Moga aja karya keduanya lebih bagus dan menantang untuk dibaca.

Thursday, December 6, 2012

Mengintip Kondisi Pendidikan Amerika dalam "Waiting for Superman"

Pendidikan selama ini menjadi sebuah problem yang tidak pernah selesai untuk dipermasalahkan. Tidak hanya di Indonesia, masalah ini menjadi hal yang global. Tak terlepas negara Amerika Serikat atau USA.

Beberapa saat yang lalu saya menyaksikan sebuah film dokumenter pendek yang mengisahkan masalah pendidikan di Amerika. Pendidikan di negara yang termasuk negara terbesar ke-3 dunia (versi Wikipedia) ini ternyata jauh dari sempurna. Banyak celah kegagalan pemerataan edukasi, mulai dari tingkat dasar hingga ke sekolah setara SMA bahkan sarjana. Dalam film yang saya saksikan, semuanya dirangkum dalam video berdurasi tak lebih dari satu jam bertitle "Waiting for Superman".

Ada beberapa masalah yang dibahas di video ini, diantaranya tentang masalah biaya yang selangit, kondisi guru pengajar yang masih kurang maksimal, penggunaan waktu yang kurang efektif, dan masalah sistem masuk ke suatu sekolah yang kurang fair. Kurang fair disini karena sebagian kursi ditentukan menggunakan lotere.

Video ini sebenarnya gabungan dari beberapa kisah yang diikuti analogi fakta terdahulu yang memiliki inti masalah yang serupa. Cukup menggelitik ketika melihat video tentang seorang ibu yang mendaftarkan anaknya sekolah, lalu scene berubah 180' jadi cuplikan film Superman, tokoh superhero legendaris berjubah merah itu. Namun, perpaduannya tetap mengena pada inti permasalahan secara langsung.

Kisah-kisah yang diangkat antara lain tentang Geoffrey Canada dan Michelle Urges dua orang kepala sekolah dengan gebrakan luar biasa di bidang mereka. Selain itu ada pula orang tua yang mendaftarkan anak mereka ke sekolah. Di bagian ini dengan sangat apik David Guggenheim (the director) menggambarkan cuplikan jalannya kegiatan lottere. Disamping itu, penampilan tanggapan tokoh-tokoh ahli yang cukup menggugah kita untuk bergerak.

Bukan hanya sekedar film, ini merupakan sebuah program penuntasan masalah pendidikan yang non-pemerintah. Selain kampanye melalui video, mereka membuat forum umum sebagai wadah penerima aspirasi dari semua kalangan. Forum dan cuplikan video "Waiting for Superman" bisa anda akses di link di bawah ini : http://www.waitingforsuperman.com/action/

Setelah melihat video ini, saya rasa perlu adanya langkah yang serupa di Indonesia. Carut marut pendidikan Indonesia saya rasa perlu adanya tanggung jawab dari pihak non-pemerintah seperti ini. Baik dari pihak guru, murid dan orang tua. Karena pendidikan adalah dasar apakah sebuah bangsa bisa jadi bangsa yang maju atau tidak. Bangsa yang besar adalah bangsa dengan pendidikan yang maju.