Pages

LOOK-ARROUND 1st

Look-Arround ini berisi slide foto terbaru di daftar koleksi foto. Edisi pertama ini lokasi pengambilan foto seratus persen di kawasan Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang.

Pantai yang perawan

Meski jalan akses ke pantai rusak, tapi dijamin setara dengan keindahannya. Sepi pengunjung membuat keperawanannya masih sangat terjaga.

Death Coral

Tumpukan bangkai coral berwarna putih cerah terlihat menumpuk beberapa meter di pinggir pantai. Saya sedikit penasaran tentang apa yang mernbawa mereka kemari.

Laguna kecil.

Tempat parkir di wilayah pantai ini tidak luas. Terletak dekat dengan lokasi parkir, ada sebuah laguna kecil(mungkin sangat kecil) tempat anda bisa berendam santai tanpa perlu memikirkan ombak.

Fishing in The Noon

Walau siang bukan waktu memancing yang ideal, kelihatannya mereka tetap asyik saja walau harus bergumul dengan ombak pasang dan terik matahaari.

Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Monday, January 14, 2013

Nikmatnya 'Susu Tante' Djuminten

Dalam mengepak pasaran dompet, mungkin kita berpikir dua kali dalam meminimalisasinya, tantangan akan hemat, dan kebutuhan yang semakin tinggi, terkadang menuntut seseorang berlabelkan 'pelit' dalam sosialismenya. Yah .. Malang, sebagai salah satu kota pelajar yang terbilang murah dan tak menguras banyak upaya untuk mendedikasikan diri sebagai direktur tinggi PT.Terpelit Sekerabatan. 'susu tante' terdengar sedap dan menggiurkan jika dijiplak dalam pendengaran. Yah seperti itulah yang dirasa, nikmatnya bagai surgawi yang menoreh lidah untuk turut tergoyangkan dan tak henti menegak sedotan yang terpampang di pinggiran gelasnya. Cukup dalam sekali sihir, 7000 rupiah saja, susu tante yang nikmat dan segar disajikan secara eksklusif untuk anda. Merasa kurang puas dengan susu tante? Djuminten memiliki cadangan menu yang tak kalah beken , yaa  'susu perawan' yang dijamin bakal lebih bikin betah. Ups! Jangan salah paham dulu. Kedua titel yang terkesan fulgar tadi adalah nama sajian penyegar lidah di resto "House of Djuminten".
Beberapa menu House of Djuminten
Mungkin nama bangunan yang tergolong blasteran antara jawa dan bule menjadi pilihan yang terkesan aneh. Namun, tak terduga akan abstrastik bangunan yang memang layak sebagai tongkrongan anak muda hingga orang tua. Bagaimana tidak, lesehan hingga kursi kayu tersusun rapi sebagai bagian dari kehormatan yang memfasilitasi bak restoran mewah di pingiran kota.

Berlokasi Jalan Pajajaran, warung makan dengan tampilan cafe ini nampaknya punya ruang tersendiri di hati pelanggan. Selain berhasil menyulap makanan katrok jadi elegan, tempat dengan kesan ndeso bernuansa remang-remang ini juga membuat pantat lengket. Kalau tidak hati-hati, nanti bisa kebablasan tidur disini. Bagaimana tidak ? tiupan sepoi angin lokal, beradu dalam minimalis ruang yang juga dibubuhi AC. Cukup dengan memilih antara ruang di dalam ataupun diluar. Selain minuman yang memiliki kadar protein dan gizi yang tinggi, makanan yang bernuansakan kaya vitamin dan zat besi, dengan rendah lemak juga terhidangkan dalam menu. Tak perlu khawatir timbunan lemak berlebih akibat porsi yang ekstra memadai di sini. Selain karena makanan bisa disantap beramai-ramai, nilai gizi yang terkandung juga teratasi dengan normal.  Untuk anak di bawah umur, adapula makanan yang terupdate dengan nama-nama kartun masa kini, contohnya "nasi goreng spongebob" yang menarik minat untuk tidak luput dari keinginan mencobanya.
Pokoknya ga nyesel deh ...  

Waktu tak menjadi batasan di sana, berapapun lamanya, pelayanan yang tergubah tetap saja 'on' hingga kita memulangkan diri. Sehingga selain sebagai arena kuliner, juga bisa didedikasikan sebagai tempat temu kangen, curhatan, pacaran (no mojok), hingga sebagai tempat belajar dan sharing. Fasilitas yang tak kalah penting pun tersedia, tidak lain tidak bukan adalah musholla yang sederhana, dengan mukenah dan sarung yang tersedia, mengingatkan kita betapa berartinya waktu untuk tidak pernah lupa mengagumi Tuhannya. 

Kerapian dan harumnya nuansa rumah jadoel, yang dilandasi dengan kebersihan yang tiada batas, menyebabkan rasa nyaman dan semakin betah. Tempat parkir pinggir jalan yang terawasi oleh tukang parkirpun menjamin nilai 'no maling, no helm hilang' ketika berbetah ria di dalam rumah makan tersebut. Sangat disayangkan apabila anda tak meramu lidah, serta menggugah hasrat, dan memanfaatkan waktu senggang untuk menikmati ataupun sekedar temu kangen di tempat ini. Cobalah dengan hati ria dan penuh semangat, maka tante-tante yang nikmat siap meleburkan anda dengan sensasi yang 'wah' dan bergizi tinggi :)

Saturday, January 5, 2013

Fun-Learning Vacation @EcoGreenPark

Bukan hanya kemacetan dan apel yang tumbuh dengan subur, kini Batu kian ramai dengan taman hiburan. Setelah sukses dengan Jatim Park 1 yang dibangun tahun 2000 silam. Kini pihak manajemen yang sama menelurkan satu lagi taman hiburan-nya. Alih-alih memiliki konsep baru dan penambahan wahana, Eco Green Park hadir berdampingan dengan Batu Secret Zoo, a.k.a Jawa Timur Park 2.

Udara yang sejuk di daerah ketinggian semakin menambah keunggulan Eco Green Park. Dengan konsep sederhana tapi memikat, wahana wisata ini mengusung tema lingkungan. Pihak pengelola mengajak pengunjung untuk mencintai alam. Pengunjung diajak untuk bermain sambil mengenal khazanah nusantara.
Cukup 40 ribu rupiah, anda bisa mendapatkan gelang khusus sebagai tiket masuk. Setelah gelang melekat di tangan, berikutnya tinggal melenggang masuk ke dalam. Sebuah miniatur rumah, kebun dan sawah, ditambah kumpulan candi buatan, serta latar gunung Panderman akan menyambut anda.

Eco Green Park, menawarkan 25 wahana yang bisa anda jajal tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan sepeser pun. Sebagai bagian pembuka, anda akan menuju wahana 'Insectarium'. Ratusan spesies serangga dapat anda saksikan di dalam sebuah kubah raksasa dari anyaman rotan. Yang paling unik diantara semua adalah lukisan serangga. Gabungan dari kumbang dan kupu-kupu bermacam warna dirangkai menjadi satu membentuk motif serangga raksasa bernilai seni tinggi.


Tidak hanya dunia serangga. Kebun unggas bersayap mungil pun tidak kalah menarik. Dalam wahana berjudul 'Walking Bird' ini, anda memang diajak untuk berjalan-jalan bersama unggas sejenis merak hijau. Persiapkan jagung kering atau makanan unggas, siapa tau ada merak yang melompat ke tengah jalan dan meminta sedekah dari anda.

Puas mengambil gambar unggas, kita bisa bermain air dan musik bersamaan. Kedua hal ini disajikan di 'Plaza Music'. Bila anda sudah lelah, anda pun bisa duduk sambil menyantap hidangan ringan di meja dan kursi yang disediakan.

Setelah cukup beristirahat, masih ada banyak wahana yang bisa anda coba. Tidak hanya pameran pertanian, perhutanan dan perkebunan, kandang unggas eksotik. Anda juga bisa belajar Geografi dan Sains di wahana 'Eco-Scince'. Bila di sekolah hanya diajarkan teori yang membosankan, disini pengunjung bisa belajar dengan lebih atraktif. Pasalnya ada alat peraga bencana dan tayangan 3 dimensi yang bisa dicoba. Tidak hanya sekedar tahu ilmu-nya tapi anda akan bisa merasakan gempa 5 skala Richter atau angin berkecepatan 100 km/jam. Secara langsung!

Masih ada wahana lain yang tidak kalah seru untuk anda coba semuanya. Pastikan untuk membawa payung dan baju ganti, karena cuaca pegunungan sering tidak menentu dan datang lebih pagi untuk menghindari macet yang bisa jadi menyita waktu. Tips ini akan sangat berguna, terutama bagi anda yang datang di high day.

Jadi, bagaimana liburan berikutnya? Siap untuk menjajal keseruan 'Eco Green Park'?!

Friday, December 14, 2012

"5 cm", In My Point of View.

    "apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa." -Donny Dhirgantoro


Inilah kurang lebih pesan dari film "5 cm". Film garapan Rizal Mantovani ini telah diputar di berbagai bioskop di seantero Nusantara mulai 12 Desember 2012 (12-12-12). Tentu saja kehadiran film ini di beberapa bioskop amat dinanti. Pasalnya banyak pembaca novelnya yang penasaran seperti apa hasil visualisasi dari novel karya Donny Dhirgantoro ini.

Nah, kebetulan baru aja nonton tadi sore. Jujur, udah lama banget nunggu kehadiran film ini. Dan ternyata, hasilnya gak jauh beda sama novelnya. Kisah di dalam novelnya benar-benar sukses dimunculkan di setiap shoot-nya di film. Sama-sama memuaskan dan mengena ke hati. Mantep!


yang jadi pemeran di film "5 cm"

 Di dalam film ini banyak cerita pencapaian sebuah cita-cita serta persahabatan yang berbalut dilema percintaan dan sedikit nilai nasionalisme. Awalnya bercerita tentang perjanjian antara Genta, Arial, Ariani, Zafran, dan Ian yang berjanji untuk tidak saling komunikasi selama 6 bulan. Dalam tenggat waktu tersebut, mereka berharap lebih serius menggapai keinginan masing-masing. Setelah itu digambarkan bagaimana keseriusan mereka untuk menghadapi setiap tantangan di keseharian mereka.

Setting utama dari cerita "5 cm" ini antara lain ada di Jakarta dan Semeru. Berbagai setting dan suasana berganti 180', dari suasana ibu kota Jakarta ke keindahan Ranu Kumbolo dan Mahameru, penonton seolah dibuat jet leg karena perbedaan ini. Tetap saja penonton merasa terkesima. Adegan demi adegan dengan manisnya membuat mata penonton terhipnotis dan tidak ingin berpaling. Terus saja jalan alur sukses menaik-turunkan perasaan penonton. Hingga film berakhir pun penonton masih ogah-ogahan untuk mengangkat pantat pulang.

Kalau untuk saya, menonton film ini seperti flashback ingatan ke zaman SMA saat pertama kali saya pergi ke Mahameru. Sesekali saya merinding saat mengingat sulitnya perjuangan untuk mencapai titik tertinggi di pulau jawa ini. Di "5 cm" semuanya tergambar dengan apik.

Satu lagi yang patut diacungi jempol adalah bagaimana film ini mempengaruhi pandangan orang tentang naik gunung. Hampir semua teman yang denger saya suka naik gunung awalnya tanya, "Ngapain naik gunung?". Tapi sekarang ganti gini, "Kapan naik gunung?" atau "Ayo naik gunung!". Semua malah semangat naik gunung dan jadi lebih terbuka dengan kegiatan seperti ini. Two thumbs up!

   Akhirnya, untuk temen-temen yang belum nonton, sempetin deh. Rugi kalau gak nonton.
   Salut deh buat film yang satu ini. Moga aja karya keduanya lebih bagus dan menantang untuk dibaca.

Thursday, December 6, 2012

Mengintip Kondisi Pendidikan Amerika dalam "Waiting for Superman"

Pendidikan selama ini menjadi sebuah problem yang tidak pernah selesai untuk dipermasalahkan. Tidak hanya di Indonesia, masalah ini menjadi hal yang global. Tak terlepas negara Amerika Serikat atau USA.

Beberapa saat yang lalu saya menyaksikan sebuah film dokumenter pendek yang mengisahkan masalah pendidikan di Amerika. Pendidikan di negara yang termasuk negara terbesar ke-3 dunia (versi Wikipedia) ini ternyata jauh dari sempurna. Banyak celah kegagalan pemerataan edukasi, mulai dari tingkat dasar hingga ke sekolah setara SMA bahkan sarjana. Dalam film yang saya saksikan, semuanya dirangkum dalam video berdurasi tak lebih dari satu jam bertitle "Waiting for Superman".

Ada beberapa masalah yang dibahas di video ini, diantaranya tentang masalah biaya yang selangit, kondisi guru pengajar yang masih kurang maksimal, penggunaan waktu yang kurang efektif, dan masalah sistem masuk ke suatu sekolah yang kurang fair. Kurang fair disini karena sebagian kursi ditentukan menggunakan lotere.

Video ini sebenarnya gabungan dari beberapa kisah yang diikuti analogi fakta terdahulu yang memiliki inti masalah yang serupa. Cukup menggelitik ketika melihat video tentang seorang ibu yang mendaftarkan anaknya sekolah, lalu scene berubah 180' jadi cuplikan film Superman, tokoh superhero legendaris berjubah merah itu. Namun, perpaduannya tetap mengena pada inti permasalahan secara langsung.

Kisah-kisah yang diangkat antara lain tentang Geoffrey Canada dan Michelle Urges dua orang kepala sekolah dengan gebrakan luar biasa di bidang mereka. Selain itu ada pula orang tua yang mendaftarkan anak mereka ke sekolah. Di bagian ini dengan sangat apik David Guggenheim (the director) menggambarkan cuplikan jalannya kegiatan lottere. Disamping itu, penampilan tanggapan tokoh-tokoh ahli yang cukup menggugah kita untuk bergerak.

Bukan hanya sekedar film, ini merupakan sebuah program penuntasan masalah pendidikan yang non-pemerintah. Selain kampanye melalui video, mereka membuat forum umum sebagai wadah penerima aspirasi dari semua kalangan. Forum dan cuplikan video "Waiting for Superman" bisa anda akses di link di bawah ini : http://www.waitingforsuperman.com/action/

Setelah melihat video ini, saya rasa perlu adanya langkah yang serupa di Indonesia. Carut marut pendidikan Indonesia saya rasa perlu adanya tanggung jawab dari pihak non-pemerintah seperti ini. Baik dari pihak guru, murid dan orang tua. Karena pendidikan adalah dasar apakah sebuah bangsa bisa jadi bangsa yang maju atau tidak. Bangsa yang besar adalah bangsa dengan pendidikan yang maju.